Raja yang Mencari Penasihat
05 Jul 2026
Pada zaman dahulu berdirilah sebuah kerajaan yang makmur dan disegani. Kemakmuran itu bukanlah kebetulan, melainkan hasil kepemimpinan seorang raja yang bijaksana, cerdas dan selalu mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Di bawah pemerintahannya, keamanan terjaga, perekonomian berkembang dan rakyat hidup tenteram.
Sang raja hanya memiliki seorang putra yang kelak akan mewarisi takhta kerajaan. Sebagai putra mahkota sekaligus anak semata wayang, ia tumbuh dalam limpahan kasih sayang dan kemewahan. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan terbaik dari para guru pilihan kerajaan. Kecerdasannya tidak diragukan, tetapi karena terlalu dimanjakan, tumbuh pula sifat-sifat buruk dalam dirinya. Ia menjadi gemar hidup berfoya-foya, merasa dirinya paling benar, serta bersikap sombong dan angkuh terhadap orang lain.
Waktu terus berlalu hingga akhirnya sang raja wafat. Putra mahkota pun dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Namun, sejak pergantian kepemimpinan itu, keadaan kerajaan mulai berubah. Berbagai kebijakan yang diambil raja baru sering kali menimbulkan keresahan. Rakyat mulai kehilangan kepercayaan, sementara kalangan cendekiawan, kaum terpelajar, dan para pemikir kerajaan semakin lantang menyampaikan kritik terhadap jalannya pemerintahan.
Semakin hari, suara ketidakpuasan semakin meluas. Menyadari keadaan tersebut, sang raja mengumumkan bahwa dirinya terbuka terhadap semua kritik dan saran demi kemajuan kerajaan. Ia bahkan menyatakan bahwa orang-orang yang berani berpikir kritis justru dibutuhkan untuk membantunya memimpin.
Untuk membuktikan kesungguhannya, sang raja mengadakan sebuah ujian besar yang terbuka bagi seluruh rakyat. Tujuannya adalah memilih orang-orang yang paling cerdas, paling kritis, dan memiliki gagasan terbaik untuk diangkat sebagai penasihat kerajaan.
Ribuan orang mengikuti ujian itu. Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, terpilihlah sejumlah orang yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa, pemikiran yang tajam, dan keberanian mengkritik demi kebaikan negeri.
Nama-nama mereka kemudian didata. Satu per satu dipanggil ke istana untuk menerima pengangkatan sebagai penasihat kerajaan.
Namun sejak hari itu, tak seorang pun pernah melihat mereka kembali.